Jumat, 17 Mei 2013

Keadaan Bahasa, Dialek dan Tradisi Lisan


Di mana ada masyarakat di situ ada bahasa. Setiap masyarakat pasti
memiliki bahasa. Suku bangsa adalah salah satu contoh masyarakat.
Menurut Koentjaraningrat (1999), jumlah suku bangsa Indonesia menurut
Zulyani Hidayah ada sebanyak 656, sedangkan menurut J.M. Melalatoa
ada sebanyak 500. Bila kita asumsikan setiap satu suku bangsa Indonesia
memiliki satu bahasa, maka jumlah bahasa yang ada di Indonesia berkisar
antara 500 sampai dengan 656 bahasa. Perkiraan itu membawa kita pada
satu kesimpulan bahwa keadaan bahasa di Indonesia sangat beragam.
Persebaran bahasa-bahasa kesukuan di Indonesia tidaklah sama. Ada
bahasa suku yang memiliki persebaran cukup luas karena penyebaran
penuturnya yang sangat luas dan terus berkembang. Ada juga bahasa
suku yang memiliki persebaran tidak luas juga dikarenakan penyebaran
penuturnya yang sangat terbatas. Program pembangunan juga turut
mempengaruhi penyebaran bahasa suku, salah satu contohnya adalah
transmigrasi. Hal ini semakin mempersulit untuk menentukan secara pasti
persebaran suatu bahasa suku.
Kebanyakan orang Indonesia dapat menuturkan dua bahasa. Sering
menukar penggunaan bahasa Indonesia, bahasa nasional, dengan
(sedikitnya) satu bahasa daerah atau bahasa suku bangsa. Bahasa Nasional
dianggap sebagai bahasa resmi, untuk digunakan di sekolah atau di
pertemuan resmi. Ada banyak kecualian, tentu saja termasuk upacara dan
pertunjukan bahasa daerah harus digunakan. Penggunaan bahasa daerah
dipihak lain, lebih sering merupakan norma pada situasi tidak resmi, seperti
di rumah dan di dalam urusan antaranggota sesama kelompok suku
bangsa. Bahasa Indonesia bukanlah bahasa pertama dari setiap masyarakat
suku bangsa Indonesia. Itulah sebabnya ada penggunaan bahasa daerah
di sekolah negeri hingga kelas 3 SD (Indonesia Heritage, jilid 10, 2002).
Setiap orang dalam masyarakat bahasa di Indonesia dapat
menunjukkan sedikitnya tiga tingkat interaksi linguistik, Yaitu:
1. Tingkat suku bangsa, yaitu penggunaan bahasa dalam kelompok
bahasa suku bangsa tertentu, misalnya antara sesama orang Melayu,
Riau, Ambon, Sunda, Batak, Bugis, Jawa, dan sebagainya.
2. Tingkat antarsuku bangsa, yaitu penggunaan bahasa di antara
masyarakat kelompok sukubangsa yang berbeda. Misalnya
percakapan antara orang Batak dengan orang Sunda, orang Ambon
dengan orang Jawa, orang Minangkabau dengan orang Bugis, dan
sebagainya. Tidak selalu mereka menggunakan bahasa Indonesia,
mungkin mereka menggunakan bahasa tertentu yang dapat mereka
mengerti.
3. Tingkat nasional, yaitu penggunaan bahasa pada tingkat nasional,
tentu dengan menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini sangat nampak
pada acara-acara resmi dan keagamaan pada tingkat nasional serta
di dunia pendidikan.
Pada hierarki ini, bahasa Melayu salah satu bahasa daerah
berkedudukan unggul, karena penjelmaannya di tingkat nasional sebagai
bahasa Indonesia, bahasa nasional. (Indonesiam Heritage, Jilid 10, 2002).
Bahasa Melayu adalah salah satu bahasa daerah yang memiliki
wilayah persebaran yang cukup luas. Ada bahasa Melayu Riau, bahasa
Melayu Jambi, dan bahasa Melayu Langkat. Demikian juga halnya dengan
bahasa Jawa, ada bahasa Jawa Surakarta, bahasa Jawa Banyumas, dan
bahasa Jawa Surabaya. Kondisi yang sama kemungkinan besar akan
ditemukan pada bahasa daerah lainnya. Apakah yang membedakan
bahasa Melayu Langkat dengan Melayu Riau? Apakah yang membedakan
bahasa Jawa Surakarta dengan bahasa Jawa Banyumas? Yang
membedakan adalah variasi mereka dalam mengucapkannya yang pada
akhirnya melahirkan logat, dialek atau aksen bahasa. Satu bahasa daerah
(bahasa suku bangsa) sangat mungkin memiliki beberapa dialek. Dengan
demikian, jumlah dialek sudah pasti lebih banyak daripada jumlah bahasa
yang ada di Indonesia. Keberadaan dialek memperjelas teori yang
menyatakan bahwa bahasa amat erat hubungannya dengan keadaan alam,
suku bangsa, dan keadaan politik di daerah-daerah yang bersangkutan.
Variasi berbahasa, dialek, logat atau aksen dimiliki setiap orang,
bahkan tanpa disadari melekat dalam diri setiap orang dan nampak ketika
mengucapkan kata-kata dalam bahasa daerah ataupun bahasa nasional.
Bahasa nasional adalah bahasa Indonesia, tetapi cara-cara setiap suku
bangsa Indonesia dibedakan oleh aksen, logat atau dialek. Dialek orang
Ambon menggunakan bahasa Indonesia sangat berbeda dengan orang
Jawa, Madura, Mingkabau, Batak, Melayu, dan sebagainya. Bahkan bagi
orang-orang yang sudah mengenal berbagai suku bangsa Indonesia, dari
dialeknya mengucapkan kata-kata dalam bahasa Indonesia, dapat
mengetahui asal – usul daerah dan suku bangsanya.
Dimanakah kita dapat mendengar dan mengetahui bahasa dan dialek
dari masyarakat bahasa (suku bangsa) yang ada di Indonesia? Kita dapat
mengetahui dan mendengar pada percakapan dari masyarakat bahasa
yang bersangkutan. Kita dapat mengetahui dan mendengarnya melalui
tradisi lisan yang ada pada setiap masyarakat bahasa (suku bangsa) yang
ada di Indonesia. Bila kita ingin mengetahui dan mendengar bahasa dan
dialek bahasa Jawa, kita dapat mewujudkan melalui tradisi lisan
masyarakat Jawa, di antaranya wayang kulit. Wayang kulit adalah teater
boneka bayang-bayang Indonesia. Kumpulan lakonnya banyak bersumber
dari legenda dan kisah lisan sastra dari tradisi India dan Jawa. Wayang
kulit disukai di Bali, Sumatera Selatan dan Jawa Barat, namun Jawa Tengah
dianggap sebagai tempat asal bentuk teater ini. Bila kita ingin mengetahui
dan mendengar bahasa dan dialek Melayu Riau, kita dapat
mewujudkannya melalui tradisi lisan masyarakat Melayu Riau, yaitu Mak
Yong. Aslinya Mak Yong dipertunjukkan bagi kelas atas di istana sultan,
khususnya di Kelantan (sekarang Malaysia bagian timur laut) dan Raiu-
Lingga, jantung peradaban Melayu hingga tahu 1700-an. Fungsi Mak
Yong memberi penghormatan kepada Yang Mahakuasa. Sultan dan
isterinya merupakan wakil Tuhan di bumi. Pertunjukan untuk sultan
sebenarnya merupakan persembahan kepada Tuhan.
Apakah keterkaitan antara bahasa, dialek dan tradisi lisan? Uraian di
atas telah menjelaskannya. Bahasa adalah sistem tanda bunyi yang
digunakan manusia dalam berkomunikasi. Setiap orang sangat
dipengaruhi oleh letak geografis, politik, ekonomi dan adat istiadat dalam
berbahasa, sehingga muncullah dialek dalam berbahasa. Salah satu sarana
untuk mengetahui dan mendengar dialek bahasa adalah tradisi lisan.
Secara sederhana dapat disimpulkan, bahasa melahirkan dialek yang
dipelihara, dikembangkan dan diwariskan melalui tradisi lisan.
Perkembangan suatu bahasa, dialek, dan tradisi lisan dapat menuju
kepada dua arah, yaitu menjadi lebih luas daerah pakainya. Bahkan
mungkin dapat menjadi bahasa baku, ataupun sebaliknya, yakni malah
dapat lenyap sama sekali. Baik perkembangannya yang membaik maupun
yang memburuk, semuanya itu selalu kembali kepada faktor-faktor
penunjangnya, yaitu apakah itu faktor kebahasaan ataukah faktor luar
bahasa. Contoh perkembangan membaik, misalnya saja adalah diangkat
dan diakuinya bahasa dan dialek Sunda kota Bandung sebagai bahasa
Sunda baku dan bahasa sekolah di Jawa Barat, serta bahasa Jawa kota
Surakarta sebagai bahasa baku Jawa dan bahasa sekolah di Jawa Tengah.
Contoh perkembangan memburuk, misalnya adalah lenyapnya bahasa
dan dialek Sunda di kampung Legok Indramayu, yang sekarang hanya
dapat menggunakan bahasa Jawa Cirebonan. Kelenyapan bahasa dan
dialek ini sebenarnya merupakan keadaan yang paling buruk yang pernah
dialami oleh sesuatu bahasa ataupun dialek.
Perkembangan membaik mungkin terjadi pada bahasa, dialek dan
tradisi lisan dengan jumlah penutur di atas 1.000.000 (satu juta orang).
Kekhawatiran perkembangan memburuk sangat mungkin terjadi pada
bahasa, dialek, dan tradisi lisan dengan jumlah penutur yang sedikit (di
bawah satu juta orang) dan diancam bahaya kepunahan. Ada beberapa
faktor yang dapat menyebabkan terjadinya perkembangan memburuk
suatu bahasa, dialek dan tradisi lisan, antara lain:
a. Adanya susupan bahasa kebangsaan kepada bahasa daerah, dan
susupan bahasa kebangsaan dan bahasa baku bahasa daerah ke dalam
dialek. Terjadi atau masuknya susupan bahasa ini antara lain dapat
melalui berbagai saluran, baik resmi ataupun tidak resmi, seperti:
1) Sekolah atau lembaga pendidikan
2) Saluran budaya
b. Faktor sosial. Tidak dapat dipungkiri bahwa makin baiknya keadaan
juga merupakan faktor penunjang bagi membaiknya taraf kehidupan
sosial masyarakat. Dengan bertambah baiknya taraf kehidupan sosial
tersebut, maka kemungkinan untuk memperoleh pendidikan yang
lebih baik, dan memperoleh kedudukan yang lebih baik pun menjadi
lebih terbuka pula. Sementara itu, dengan terbukanya kesempatan
tersebut, maka banyak pula warga masyarakat yang berusaha serta
mencapainya. Pada umumnya, untuk semua itu mereka harus
meninggalkan kampung halamannya, dan pergi ke kota yang lebih
besar sesuai dengan taraf yang hendak mereka capai sebelumnya.
Akan tetapi, di sana mereka harus hidup dalam lingkungan yang
mungkin berbeda dengan lingkungan di kampung asalnya masingmasing.
Sebagai hasil akhirnya, kalau pun ada di antara mereka yang
kembali ke kampung halamannya, namun biasanya mereka tetap
mempertahankan cara-cara hidup yang pernah mereka peroleh
selama di rantau. Pada taraf bahasa daerah, biasanya mereka akan
memperlihatkan pengaruh bahasa kebangsaan dan bahasa asing
dalam tuturan (tutur kata) mereka. Pada tingkat dialek, biasanya
mereka akan tetap mempergunakan bahasa baku karena sekarang
mereka sadar bahwa ternyata dialeknya tidak sebaik bahasa baku.

sumber : Antropologi Kontekstual XI SMA/MA Program Bahasa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar